Tulisan yang dikaitkan 'Media Lokal'

Memahami Diri Sendiri Melalui kelokalan

Menjadi salah satu anggota dari satu kelompok khalayak merupakan sebuah pengalaman bersama dengan potensi, sebagaimana dulu telah diteliti oleh Benedict Anderson (1983), menciptakan ’sebuah komunitas bayangan’ (imagined community) bahkan ketika, misalnya, sebuah surat kabar yang dikonsumsi sendiri atas dasar pilihannya pembaca sendiri. Demikianlah, kutipan ini saya ambil dari Meryl Aldridge, Understanding Local Media (2007:5). Tambahnya lagi, tesis utama Anderson adalah bahwa pencarian sebuah pasar di bawah ‘cetakan kapitalisme’ menyebabkan standardisasi (pemiawaian) bahasa dan memungkinkan ‘perayaan massa yang bersifat spontan’ yang membantu untuk memantapkan negara bangsa modern.

Hal ini bisa dilihat dari pemakaian bahasa Indonesia di dalam pelbagai media di seluruh Indonesia. Meskipun, negeri khatulistiwa ini memiliki ratusan bahasa lokal, namun acara televisi dalam pelbagai genre menggunakan bahasa Indonesia dan telah diterima oleh setiap warga menjadi bahasa ungkapan. Keterikatan setiap anggota masyarakat dengan bahasa Indonesia telah juga memungkinkan satu sama lain mempunyai ruang untuk mendekatkan diri dan saling berbagi. Penguatan bahasa nasional sebagai pengantar pendidikan juga telah mempengaruhi cara berpikir masyarakat tentang dunianya. Tidak boleh tidak, bahasa Indonesia telah dilekatkan dengan pandangan dunia (weltanschauung atau tasawur) masing-masing pengguna, namun tetap mengandaikan satu bayangan tentang kebersamaan dengan menanggalkan identitas etnik, orientasi agama dan politik.

Tapi, uniknya di tengah kesadaran negara-bangsa ini, setiap daerah berlomba-lomba untuk menampilkan identitas khasnya melalui media lokal. Acara pengajian agama di Kebumen, Jawa Tengah, yang mengusung pengajaran agama dalam bahasa Indonesia, tetapi dibaluti oleh aroma lokal, baik percampuran bahasa maupun idiom lokal yang diindonesiakan untuk memudahkan jamaah pengajian memahami pesan yang disampaikan oleh penceramah (Lebih jauh lihat Tetty Noor Aini, “Pengajian Agama di Televisi Lokal Kebumen”, Skripsi UIN Sunan Kalijaga, 2007).

Kalau melihat subjudul buku Meryl Aldridge di atas, Locality, Identity and attachment, tanpa membaca isinya kita serta merta boleh membayangkan kaitan antara kelolakalan dengan identitas, dan lebih dari itu keterikatan seseorang dengan keduanya. Tapi apa memang demikian? Tidak sepenuhnya. Bagaimanapun, kelokalan bisa menjadi arena untuk pelbagai bentuk perolehan yang didasarkan kepada jaringan sosial yang telah berlangsung lama, sebagaimana telah ditunjukkan di wilayah Kepulauan Sheppey, sebuah wilayah terasing Kent Timur (Pahl, 1984) dan pedesaan Wales.


Pengarang

Demi Masa

Januari 2010
S M S S R K J
« Sep    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  
Watch videos at Vodpod and other videos from this collection.

Klik tertinggi

  • Tidak ada

Tulisan Teratas

  • Tidak ada

Blog Stats

  • 1,278 hits