Kosmopolitankah Surabaya?

Ahmad Sahidah PhD
Pengajar Program Pascasarjana IAINJ Paiton Probolinggo

Surabaya is a vast sprawling conurbation: pancake-flat and blisteringly hot during the day. Rambunctious, raucous and earthy (Karim Raslan, Twitter, 4 Oktober 2010)

Untuk kesekian kalinya, saya menikmati pembatas Jalan Perak, tak jauh dari Pelabuhan, yang dipenuhi pepohonan yang rindang dan bunga yang menebar aroma keindahan. Dengan bus Damri berpendingin udara (air conditioner), penumpang tentu bisa lebih nyaman menikmati jalanan kota, meski kadang tersendat karena begitu banyak pelbagai jenis kendaraan menjubeli jalan yang tak seberapa lebar itu dibandingkan banyaknya alat angkutan yang berseliweran. Di beberapa ruas jalan, terdapat trotoar tempat orang berjalan kaki tampak bersih, luas dan terbuat dari keramik.

Sebagai kota terbesar kedua setelah Jakarta, kota ini secara tidak langsung telah menabalkan dirinya sebagai pusat dari banyak hal, politik, ekonomi dan budaya. Lalu, apakah dengan sendirinya ia merupakan bandar kosmopolitan? Secara fisik ya, karena pengunjung luar dan dalam negeri menemukan banyak bangunan pencakar langit, hotel, perkantoran dan tempat hiburan. Belum lagi, pelabuhan yang membongkar dan menaikkan barang telah menjadikan kota ini sebagai kanal bagi pertukaran barang, yang tentu saja makin menggerakan roda ekonomi. Tentu yang membanggakan adalah penghargaan terhadap bandara Juanda sebagai lapangan terbang terbersih di Indonesia. Lalu, apakah ia layak disebut sebagai kota kosmopolitan?

Dengan merujuk pada pengertian kosmopolitan dengan keadaan masyarakat yang menyepakati adanya komunitas moral tunggal, maka tantangan ke depan terbentang di depan mata. Surabaya sejak dulu telah berhasil menjadikan dirinya sebagai wadah bersama (melting pot) bagi pelbagai keyakinan, agama, etnik dan politik. Pada waktu yang sama, Nahdlatul Ulama sebagai organisasi keagamaan terbesar berhasil menempatkan dirinya sebagai penyeimbangn kecenderungan banyak kelompok yang ingin menafikan keberadaan komunitas lain. Bagaimanapun, komunitas moral tunggal di sini bukan berarti adanya dominasi moral satu kelompok, tetapi pada moral universal yang telah dipraktikkan selama ini.

Ruang publik

Harus diakui keberhasilan pemerintah kota membenahi pertamanan telah menjadikan wajah Surabaya tak lagi gersang dan pohon meranggas tak muncul di banyak titik. Bisa dibayangkan jika warga harus menjalani keseharian di negeri tropis tanpa pemandangan kehijauan pepohonan. Bagaimanapun, dalam sudut pandang psikosomatik, keadaan tubuh dan ruang fizik yang tak nyaman akan memengaruhi keadaan batin penghuninya. Malah, ruang yang sumpek dan badan yang tak sehat akan banyak melahirkan penyakit-penyakit degeneratif. Lebih jauh, pada gilirannya orang ramai akan cenderung untuk merawatnya dengan tidak sembarangan membuang sampah.

Dengan pemeliharaan taman-taman kota, sejatinya kita telah memelihara ruang batin masyarakat. Di tengah tuntutan hidup yang semakin keras dan kondisi ekonomi yang pasang-surut, tidak terelakkan orang ramai dihadapkan dengan tekanan yang terus-menerus. Untuk itu, mereka harus bisa beristirahat sejenak dari rutinitas. Dengan tersedianya jalan di taman kota, warga bisa berjalan lebih santai dan tidak bergegas dikejar setoran, modal yang buta, kata Hokheimer dalam The Dialectic of Enlightenment.

Mengingat tipu daya budaya massa, seperti hiburan, media sosial, dan alat elektronik, masyarakat makin tersandera dengan budaya konsumsi yang akut. Televisi telah mengubah jam tubuh dan gaya hidup masyarakat. Ketika masyarakat primitif dikritik karena mempraktikkan mitos, hakikatnya masyarakat modern telah melakukan hal serupa dengan pemuasan hedonis sebagai cara untuk menemukan rasa tenang. Oleh karena itu, ruang-ruang budaya yang tidak konsumtif dan mencerahkan, seperti pagelaran musik non-komersial, teater, dan seni keagamaan, seperti Padang Mbulan Cak Nun harus menjadi pilihan masyarakat.

Perbaikan

Dibandingkan dengan Pulau Pinang Malaysia, misalnya, Surabaya telah menjadi kota tujuan banyak pendatang asing dan sempat menjadi kota yang setara dengan kota-kota besar di dunia pada masanya. Tulisan Remy Silado dalam sebuah novel Kembang Jepun menggambarkan dengan cemerlang bagaimana pada zaman kolonial Belanda Surabaya telah memamerkan wajahnya yang ‘kosmopolit’, sebelum Singapura dan Kuala Lumpur sekarang ini jauh lebih nyaman. Tentu, jumlah kalangan menengah yang tak begitu besar dan ruang publik yang tertata rapi telah memungkinkan keadaan kota yang nyaman, tertib, bersahabat dan bisa diakses dengan mudah oleh banyak orang.

Sayangnya dalam perkembangannya, sesat berpikir yang selama ini menghantui masyarakat adalah kehendak untuk memiliki kendaraan pribadi agar lebih nyaman dan mudah menuju ke suatu tempat. Anehnya, di tengah daya beli yang rendah, orang kebanyakan memilih sepedamotor, karena murah dan sebagian kredit tanpa agunan. Tentu saja, sikap penguasa yang mempunyai wewenang untuk menjadikan ruang publik lebih nyaman setali tiga uang, tak memikirkan angkutan umum yang jauh lebih ramah lingkungan. Pemilik dealer mobil dan motor tampaknya tak terhalang untuk terus menjual kendaraan dengan kenaikan yang terus melangit, sementara rute jalan tak sepadan dengan pertambahan kendaraan.

Padahal seperti diketahui, satu bus umum sama dengan tenaga yang harus dikeluarkan 38 mobil. Apa pun jenis angkutan umum jauh lebih ramah lingkungan dan tak boros bensin. Taman kota yang bertebaran dan pembatas jalan yang ditanami pohon kadang tenggelam oleh hiruk-pikuk kendaraan. Sebagai pejalan kaki, saya merawa was-was karena sepeda motor layaknya raja jalanan, menyerobot ruang pejalan kaki. Belum lagi tak semua jalan menyediakan trotoar, seperti jalan Ahmad Yani. Padahal, di sini saya bisa berjalan dari pengingapan Cemara menuju ke Graha Pena, Hypermart, dan Institut Agama Islam dan Negara (IAIN).

Namun demikian, citra kosmopolitan tak hanya melulu berwajah bangunan mentereng dan gedung pencakar langit, tetapi juga fasilitas publik, seperti trotoar, untuk pejalan kaki yang nyaman dan taman kota yang memadai untuk menjadi tempat warga melepaskan lelah. Nah, di tengah pembenahan ruang fisik, watak warga juga perlu mencerminkan nilai-nilai kosmopolit, yaitu penghargaan terhadap orang lain. Pembentukan karakter bisa dimulai dari ruang kelas, sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Buku teks yang diajar tak lebih pelajaran omong kosong jika kita masih melihat begitu banyak siswa dan mahasiswa tak membuang sampah di tempatnya dan merokok di sembarang tempat.


About this entry