Sebuah Jalan Keluar dari Kesalahpahaman

Kontan, 11 September 2009

Ahmad Sahidah

Alumnus Program Doktor Falsafah pada Universitas Sains Malaysia

Peristiwa sweeping orang Malaysia di Jalan Diponegoro memantik respons Menteri Kebudayaan Malaysia Dr Rais Yatim. Beliau yang berdarah Minangkabau menegaskan bahwa negeri serumpun itu tidak akan melakukan hal yang sama. Untuk kesekian kalinya petinggi negara tetangga berusaha untuk menghindari konflik yang lebih besar. Sebelumnya, para pemimpin elit yang lain, Najib dan Muhyidin, perdana menteri dan wakilnya, juga berharap agar hubungan Indonesia dan Malaysia tidak memburuk akibat ulah segelintir pendemo di depan kedutaan besar Malaysia di jalan Rasuna Said yang membakar bendera Jalur Gemilang dan melempar telur busuk.

Berita menggeparkan di atas dilansir oleh Bernama, Kantor Berita Malaysia, yang dimuat di surat kabar lokal, Utusan, Sinar Harian dan portal Berita Malaysia Kini beserta gambar segelintir warga yang tampak menegakkan spanduk dan yang lain memegang bambu runcing (di sana disebut buluh runcing). Tak lama, berita ini telah memantik respons di facebook. Di jejaring sosial ini, berita protes Indonesia terhadap negara Malaysia menyerbu masuk tanpa disaring sebagaimana kebanyakan Media Malaysia. Namun, koran Kosmo! (9/9/09) yang mengutip kembali berita Bernama memberi judul yang agak lain, Samseng Indonesia Ancam Warga Malaysia dengan Buluh Runcing. Samseng adalah kata Malaysia untuk preman atau gangster. Sebuah pilihan kata yang memberi pesan tersirat pada pembaca di sana.

Sweeping Berulang

Ulah segelintir orang di atas mengingatkan tindakan yang sama oleh Aksi sweeping Laskar Islam Surakarta yang terdiri dari Brigade  Hizbullah dan Laskar Jundullah ke sejumlah hotel berbintang di Solo untuk mencari wisatawan mancanegara (Wisman) asal Amerika Serikat (AS) buntut protes mereka terhadap kepongahan negara Paman Sam itu. Serta merta pihak kepolisian memberikan peringatan keras bahwa tindakan semacam dianggap bertindak main hakim sendiri. Namun perlakuan yang  sama tidak berlaku untuk pelaku yang menamakan diri Benteng Demokrasi Rakyat (BENDERA).

Sebagaimana dimuat dalam situs Bernama, BENDERA bertindak liar dengan mengancam warga Malaysia di jalan Diponegoro. Tampak, pemilihan diksi telah menggambarkan dengan gamblang psikologi  pelaku. Meskipun tindak acaman ini dilakukan hanya segelintir orang, namun berita ini telah menyebar di seantero Malaysia. Ketika kebanyakan media di negara serumpun itu telah menganggap selesai kasus Tari Pendet dan harapan dari pemimpin tertinggi Malaysia sendiri yang tidak ingin kasus ini menyeret kedua negara kepada pertikaian yang lebih besar, tiba-tiba aksi sweeping kelompok yang menggelar dirinya BENDERA telah menyulut kembali perseteruan.

Herannya, ulah mereka tampak dibiarkan. Pihak keamanan yang sepatutnya bisa mengambil tindakan cepat tampak kelu. Demikian pula, petinggi Republik yang tidak bersuara keras mengutuk aksi provokatif warganya, berbeda dengan hal yang sama ketika dilakukan terhadap warga Amerika Serikat yang akan dikasari oleh sebuah kelompok Islam. Tentu, masih segar dalam ingatan para petinggi militer kadang bersuara lantang menempalak Malaysia, namun diam seribu bahasa jika berhadapan dengan Amerika.

Jalan Baru

Inisiatif Rais Yatim mengundang wartawan cetak dan televisi dari Indonesia ke Kuala Lumpur  dalam sebuah acara buka puasa bersama tentu langkah bijak mengatasi konflik seperti ini.  Dengan tegas menteri yang pernah menjalani masa kecilnya di Sawahlunto itu menyatakan bahwa Malaysia akan bekerjasama sama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kuala Lumpur dalam bidang kebudayaan. Pada masa yang sama secara retorik bekas Menteri Luar Negeri di Era Pak Lah, panggilan akrab Abdullah Badawi bertanya, salahkah imigran dari Bugis, Jawa, Riau, Jambi, Palembang dan daerah lain mempraktikkan budayanya di Malaysia? Sementara Cina dan India tidak pernah memprotes meski kebudayaannya dipraktikkan oleh orang Malaysia dari kedua ras tersebut?

Sekarang, kedua negara seharusnya merintis jalan baru untuk menghapus penghalang kerjasama keduanya yang sebenarnya telah berjalan baik. Bagaimanapun, konflik semacam ini akan menjadi duri jika tidak diakhiri oleh keduabelah pihak. Kerjasama kebudayaan mungkin jalan keluar yagn baik di mana masyarakat di antara kedua negara bisa mengenal akar yang sama, kebudayaan Nusantara. Lebih jauh dari itu, ikhtiar kerjasama masyarakat memerlukan keterlibatan media Indonesia agar kesalahpahaman tidak berbuah pertengkaran.  Jika dulu Ir Soekarno menggelorakan slogan Amerika kita setrika dan Inggeris  kita linggis, mengapa kita melakukan langkah mundur dengan selalu mengajak perang tetangganya sendiri?

Buku adalah Jendela

Dua kata ini jelas tidak berhubungan secara langsung, karena fungsinya secara fisik berbeda. Lalu, apa pasal keduanya dikaitkan? Tak lebih kemampuannya melihat sesuatu agar tembok tak menjadi penghalang mencerap sekelilingnya. Dari jendela rumah, saya melihat lebih nyaman apa yang terjadi di sana, sejauh mata memandang. Bayangkan jika kita berada di sebuah ruangan tanpa jendela! Selain pengap, kita merasa terperangkap dalam gelap meski malam belum tiba.

Buku tentu jauh dari batasan ini. Ia adalah tingkap yang mampu mengantar pembacanya melanglang buana mengurai semesta. Ia seakan-akan memberi tubuh ini alat canggih untuk beranjak dari keterbatasannya mencandra semesta. Alangkah beruntungnya kita telah menggenggam alam hanya dengan huruf-huruf yang berbaris rapi di atas kertas.

Subjek adalah Sosok Penting

Namun demikian, subjek pelihat dan pembaca tetap penting, karena horizon yang dimilikinya mempengaruhi cara melihat dan membaca. Tembok dalam kehidupan boleh jadi berupa ideologi, keyakinan, orientasi politik atau pandangan spontan. Sementara penghalang ini boleh diurai melalui proposisi, pengujian, analisis dan bahkan kritik. Ideologi boleh jadi momok, sakral atau tuah, tapi dalam buku ia boleh jadi kedok, topeng dan kendaraan untuk memenuhi hasrat purba, kekuasaan dan kekayaan.

Masyarakat Buku sebagai Jalan Keluar

Pengetahuan bisa lahir dari ceramah, talk shaw tetapi kedalaman mencandra tak sedahsyat buku. Dunia panggung menyuguhkan drama, menyembunyikan kebenaran karena dibatasi ruang, waktu dan pencitraan yang ingin ditonjolkan. Apalagi lagi acara tersebut diringkus dalam kalimat pendek, bombastis, dan tendensius.

Masyarakat buku seharusnya menyodorkan pencarian pengetahuan melalui bedah buku yang dalam, bukan sekadar kepanjangan tangan dari selebritas dan pasar. Ia dijadikan ritual yang mengandaikan hadirnya perjumpaan hati dan perasaan akan kebenaran yang perlu diuraikan secara cermat, hati-hati dan terbuka pelbagai kemungkinan. Jika yang sedemikian muncul di tengah-tengah kita, maka tak ayal, buku benar-benar menjadi jendela yang membuat ruang batin dan nalar kita terang dan tak sesak karena udara mengalir bebas di dalamnya.

Idul Fitri dan Kesudahannya

Opini di sebuah harian nasional tentang bagaimana memaknai hari raya melegakan. Karena untuk tulisan ini, saya mengerjakannya sepenuh hati. Mungkinkah karena ini berkaitan dengan spiritualitas? Boleh jadi. Jelas, ia menggenapi komitmen untuk terus berkarya. Sebuah awal yang baik di permulaan bulan setelah hari raya.

Hari kelima ini, saya masih belum bugar karena demam menyerang, tetapi membiarkan panas di tubuh bersemayam nyaman adalah tindakan tidak cerdas. Saya membiarkannya dan terus menekuri bacaan. Malah, tulisan di harian ini saya baca kembali agar makin mengukuhkan ingatan dan siapa tahu ada makna baru, sentrifugal.

Momen penting, seperti hari raya kali ini, akan selalu mendatangkan semangat baru, meskipun kadang melempen setelah beberapa hari kemudian. Tapi, akal sehat tentu mencegah hal ini selalu terulang. Jika saya tidak bisa mengakalinya, maka saya berarti selalu jatuh pada lubang yang sama. Tidak lucu, bukan?

Koran Lokal dan Artikel Saya

Teman saya dari Aceh mengirim sms bahwa tulisan saya dimuat di koran lokal di sana. Saya masih tidur dan isteri yang membuka pesan layanan singkat. Namun, samar-samar saya menikmati keriangan. Mas Syahrul mungkin membacanya langsung dari versi cetak. Saya jadi penasaran.

Tak lama kemudian saya mandi untuk menyegarkan tubuh. Sebelumnya saya masih sempat membersihkan rumah dan mencuci piring. Tugas rutin yang juga mendatangkan kenikmatan. Lalu, setelah berpakaian baju bersih, saya berangkat. Di perpustakaan kampus, saya membuka internet dan mengecek tulisan di versi on line. Ya, tulisan yang berbicara keselaran dunia dakwah dan politik itu dimuat. Saya kemudian mengirimkan ke teman saya, Ali Noer Zaman, yang sekarang ada di Perancis dan tentu dengan harapan mendapatkan timbal balik. Dia adalah teman saya yang selalu memberikan perspektif berbeda terhadap karangan saya.

Selanjutnya, saya telah memasukkan koran bersangkutan dalam daftar koran lokal yang akan dikirimi tulisan-tulisan selanjutnya. Ada degup gembira karena saya merasa melanglang buana melalui tulisan ke pelosok Nusantara.

Kartu Lebaran dari Pimred Jurnal

kemarin, kawan baik saya, Numan memberitahu bahwa ada surat untuk saya di kantor TU kampus. Dalam benak terkelebat mungkin cek honorarium dari Dewan Bahasa dan Pustaka. Karena beberapa hari sebelumnya, pihak penerbit Majalah Dewan Sastera ini menelepon saya menanyakan data diri. Ternyata, saya salah. Sebuah kartu ucapan lebaran dengan stempel Kuala Lumpur bertanggal 18 09 2008.

Setelah dibuka, kartu lebaran tersebut ternyata dikirim oleh A Latiff  Yusoff, ketua redaksi Jurnal Pemikir. Saya senang menerimanya karena biasanya ucapan selamat hari Raya sekarang jarang disampaikan dengan surat pos, tetapi dengan pesan layanan singkat (sms) atau email. Ada gurat kebahagiaan membaca kalimat yang tertera di sebelah kanan: Dengan Ingatan Tulus Ikhlas, Maaf Zahir Batin. Lalu dibubuhi tulisan nama dan nomor telepon.

Saya sendiri pernah menelepon beliau untuk menanyakan kiriman artikel untuk jurnal yang diterbitkan oleh kelompok Utusan Karya ini. Selanjutnya, hubungan kami ditautkan melalui surat elektronik. Sekarang, silaturahmi ini bersemai berkat Ramadhan. Tebersit untuk menjumpai beliau di dunia nyata, agar percakapan kami tentang ihwal intelektual mempunyai wajah yang nyata.

Yang Tak Disangka Datang

Teman saya, Syahrul Kirom, memberitahu bahwa tulisan saya dimuat di Jawa Pos, 22 September 2008. Lalu, saya mengeceknya. Ternyata tulisan bertajuk ‘Demokrasi Omong Kosong Negeri Jiran’ itu dimuat di rubrik opini. Saya pun gembira karena sebelumnya sudah pasrah jika karangan tersebut tidak dimuat. Sebenarnya, tulisan itu lahir dari pengamatan terhadap sebuah acara talkshow televisi.

Sejak awal saya telah menekuri kotak kaca untuk mengikuti perdebatan ahli parlemen Malaysia. Sayangnya, seluruh panelis berasal dari satu pihak, sehingga tidak ada keseimbangan pandangan dalam membahas satu persoalan. Namun, saya terus mencatat pokok pikiran yang diungkap oleh para pembicara untuk menemukan intisari dari gagasan mereka tentang demokrasi.

Berbeda di televisi, buku yang membahas kehidupan politik Malaysia banyak memberikan perspektif yang lebih adil terhadap prilaku politisi. Sayangnya, mereka tidak banyakmendapatkan kesempatan untuk tampil di media televisi. Kalaupun dosen ilmu politik diwawancarai mereka tidak bisa dengan leluasan mengungkapkan pandangannya.

Tulisan di Harian Nasional

kemarin malam, teman saya dari Universiti Utara Malaysia, Ahmad Farhan, memberitahu bahwa tulisan saya di harian KOMPAS menarik perhatiannya. Saya pun terkejut, karena saya tidak tahu. ya, tulisan saya tentang sosok bekas pemimpin Malaysia, Mahathir Mohammad, dimuat dalam rubrik Politika (Jumat, 19 September 2008). Kebetulan, pada malam itu, kami sedang merayakan buka bersama di Konsulat Jenderal Republik Indonesia.

Pemuatan tulisan di koran selalu saja mendatangkan debar dan gairah untuk terus mengguratkan tulisan. Ada semacam api semangat yang menyuluh untuk selalu mengirim karangan ke media cetak. Tentu, lebih dari itu, saya juga belajar dari cara orang lain mengungkapkan gagasan, seperti Radhar Panca Dahana, Luthfie Asysyaukani, MT Zen, Lik Wilardjo, Ulil Abshar Abdalla dan lain-lain.

Bagi saya, menulis adalah membaca dengan cara lain. Ia menggiring jemari untuk memberi kesempatan pada akal budi mengasosiasikan satu ingatan, bacaan dan analisis ke dalam satu pemikiran utuh. Kadang, dalam sentuhan akhir, ada semacam pertentangan pribadi yang menyeruak. Batin dan logika kadang bertabrakan. Jika terbentur dengan keadaan semacam ini, saya kemudian berkompromi dengan realitas yang lebih besar, kehidupan dengan segala pernak perniknya.

Gadamer dan Pemahaman

Robert C Holub dalam Jurgen Habermas: Critic in the Public Sphere menyelipkan konflik Habermas dengan Gadamer. Di sini, penulis menguraikan pemikiran pengarang buku terkenal Truth and Method ini bahwa Gadamer menegaskan bahwa setiap penafsiran sekaligus adalah sebuah penerapan (application, Anwendung). Pemahaman berarti penerapan pada masa sekarang; tradisi memengaruhi kekinian sebagai perantara pemahaman sejarah.

Roman Ingarden menyebut aplikasi dengan pengonkretan (concretion), sebuah pengejawantahan atau mengkinikan oleh seorang penafsir. Di dalam pengertian ini, sebuah perbandingan bisa digambarkan antara seorang sutradara teater yang menafsirkan sebuah skenario dan mewujudkannya ke dalam sebuah pertunjukan, dan aktivitas seorang pembaca di dalam memahami sebuah teks.

Gadamer membuat kiasan antara proses pemahaman dan dialog. Menurut model ini, ketika kita menemukan sebuah teks, kita memasuki sebuah percakapan terbuka dengan masa lalu di mana pemberian dan penerimaan, pertanyaan dan jawaban, mengantarkan pada pemahaman. Jadi aplikasi bisa digambarkan sebagai sebuah perantara antara masa lalu teks dan kekinian pembaca, seperti sebuah percakapan antara ‘kamu’ masa lalu dan ‘Aku’ masa kini.

Menggunakan Cara Liyan untuk Memahami

Bassam Tibi, sarjana Muslim Jerman, menggunakan tiga asumsi pemikir, Thomas Kuhn, Réne Descartes dan Émile Durkheim dalam menulis buku paling baru, Political Islam, World Politics and Europe: Democratice Peace and Euro-Islam versus Global Jihad. Berdasarkan pemikiran Kuhn, tidak ada sebuah paradigma di dalam Ilmu Humaniora yang bisa diterima oleh semua orang. Bagi penulis buku terkenal Structure of Scientific Revolutions ini, di dalam ilmu-ilmu sosial, tidak ada paradigma yang bisa dimiliki bersama oleh seluruh komunitas. Bagaimanapun, seseorang akan menemukan pelbagai aliran pemikiran yang dengan demikian harus bersikap toleran dengan yang lain di dalam sebuah pluralisme ilmiah, sebagaimana hal ini juga terdapat di dalam dunia kebudayaan dan politik. Sementara, Cogito ergu sum, saya berpikir, maka saya ada, digunakan sebagai pijakan oleh penulis untuk menjadi dirinya sebagai subjek yang menilik persoalan yang sedang dibahas. Bagaiamana pun, seseorang boleh mencapai pengetahuan objektif pada level subjektif. Dengan kata lain, pandangan penulis tentang fenomena Islam Politik dan Eropa berdasarkan pengalaman pribadinya sebagai muslim ’saleh’ dan imigran yang telah lama bermukim di Jerman.

Sementara, pikiran Durkheim yang dicomot adalah pandangan bapak sosiologi ini yang memandang agama sebagai fakta sosial atau fait social. Terorisme atas nama agama perlu dilihat sebagai fakta, di mana ia perlu dibedakan dengan kepercayaan (beliefs) meksipun kepercayaan itu sendiri adalah fakta sosial yang bisa dikaji secara akurat. Dia memberikan contoh bahwa kepercayaan pada Jihadisme oleh pemuda Muslim yang diungkapkan sebagai cara beriman mereka, adalah sebuah fakta sosial. Pandangan jihad Islami sebagai “sebuah revolusi Islam abadi’ tidak dapat dielakkan menjadi sebuah realitas, yang membantu sebuah arah Islam di abad keduapuluh.

Mengenal diri melalui Sejarah

Buku The Preaching of Islam membuka banyak jendela tentang sejarah Islam di Nusantara. Tidak sesederhana cerita di film atau sandiwara radio, ia menceritakan banyak hal berkaitan dengan konflik, perdagangan, perkawinan. Kegigihan pendakwah Arab yang menerokai tanah baru di Sumatera adalah bukti betapa tugas menyampaikan kebaikan telah dirintis oleh mereka yang secara kultural dan bahasa sangat berbeda. Sebuah teladan yang mengagumkan.

Lalu, saya ada di mana dalam peta dakwah ini? Peran apakah yang mungkin dilakukan untuk meneladani mereka? Lalu, dakwah seperti apakah yang mungkin disampaikan di era yang sangat maju ini? Pertanyaan ini tidak mungkin dirujuk jawabannya pada keberhasilan pendakwah abad ke-7 hingga seterusnya. Persona pribadi tidak lagi mungkin dijual di tengah makin rasionalnya manusia penghuni bumi ini.

Kita memerlukan kerjasama kelompok yang mungkin kecil untuk melakukan perubahan. Paling mungkin, masing-masing individu memulai dari tempat mereka tinggal.

Halaman Berikutnya »


Pengarang

Demi Masa

November 2009
S M S S R K J
« Sep    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  
Watch videos at Vodpod and other videos from this collection.

Klik tertinggi

  • Tidak ada

Tulisan Teratas

  • Tidak ada

Blog Stats

  • 1,264 hits